Mewujudkan Keluarga yang SEHAT, SEJAHTERA & HARMONIS
Dari dua juta pasangan menikah tahun 2010 saja, 285.184 pasangan bercerai. Dan tingginya angka perceraian di Indonesia, merupakan tertinggi se-Asia Pasifik. Data tersebut, juga memperlihatkan bahwa 70 persen perceraian itu karena gugat cerai dari pihak istri dengan alasan tertinggi adalah karena KETIDAKHARMONISAN.
Lebih Lengkapnya disini...
CARA MUDAH BISNIS ONLINE TANPA STOK
"Dapat uang dari BLOG itu mudah, Asal Anda tahu caranya. Saya Akan tunjukkan kepada Anda sekarang juga...CARA MUDAH BISNIS ONLINE TANPA STOK"
Lebih Lengkapnya disini...
Peluang Usaha Modal Kecil
"Bisnis DropShip Dengan Bonus Double plus Bisa Diwariskan Ini benar-benar bisnis impian Anda. Modal kecil cuma 30rb Anda sudah bisa langsung JUALAN mulai detik ini juga. Bisnis dropship plus-plus karena Anda akan mendapatkan bonus berganda, punya potensi PASIVE INCOME* dan bahkan bisa diwariskan. Apa yang Anda harapkan dari sebuah bisnis dropship ada disini. Tidak percaya? ..."
Lebih Lengkapnya disini...
Tampilkan postingan dengan label ayah dan ibu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ayah dan ibu. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Juli 2013

Kisah inspirasi untuk para istri dan suami

0 komentar
Kakak terharu dengan kisah cerita di bawah ini, sengaja kakak bagikan cerita ini ke temen-teman, semoga dapat di jadikan nasihat, nasihat buat kakak karena kakak sadar masih jauh untuk bisa memberikan kebahagiaan buat orang yang kakak cintai bahkan belum sama sekali...

Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Senin, 15 April 2013

Kesalahan Terbesar Suami Terhadap Istri

2 komentar
MENELANTARKAN ISTRI

Setiap suami harus memahami bahwa istri adalah amanah yang dibebankan dipundak suami dan merupakan keharusan baginya untuk memberikan nafkah sejauh kemampuannya. Suami memberi makan dan minum seba­gaimana makanan dan minumannya, memberikan pakaian sebagaimana pakaiannya dan janganlah berlaku zalim ke­padanya. Berikut ini beberapa hadits Rasulullah saw. yang menganjurkan untuk bersikap baik terhadap istri, antara lain sebagai berikut.

"Takutlah kalian kepada Allah dalam memperlakukan istri-istri kalian, sesungguhnya kalian menikahi mereka dengan amanah Allah, menghalalkan kehormatan mereka dengan kalimat Allah, dan kalian juga berkewajiban untuk memberi nafkah serta pakaian kepada mereka dengan baik." (HR Muslim)

"Cukuplah itu sebuah dosa bagi seseorang yang mengabaikan tanggung jawab terhadap orang-orang yang menjadi tanggungannya. " (HR Muslim)

Maksudnya, mengabaikan orang-orang yang menjadi tanggungan, seperti istri, anak-anak, dan orang-orang yang berada di bawah naungan tanggung jawabnya.

“Satu dinar yang kalian belanjakan dijalan Allah, satu dinar yang kalian belanjakan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kalian nafkahkan untuk fakir miskin, dan satu dinar yang kalian belanjakan untuk keluargamu, (di antara itu semua) yang lebih besar pahalanya adalah satu dinar yang kalian belanjakan untuk keluargamu” (HR. Muslim)

Kandungan hadis ini tidak bertujuan bahwa seorang suami mendapatkan pilihan untuk membelanjakan harta kepada keluarganya atau tidak membelanjakan hartanya. Akan tetapi, tidak seharusnya seorang suami membelanjakan hartanya kepada orang lain dan membiarkan keluarganya tanpa makanan dan pakaian. Hal yang fardu tentunya jauh lebih utama daripada yang sunnah, dan memberi makan kepada keluarga merupakan suatu keharusan bagi seorang suami. Rasulullah saw. bersabda,

"Yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik perlakuannya terhadap keluarganya. Dan aku adalah yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku. " (HR Tirmidzi dan disahihkannya, HR lainnya, dan disahihkan oleh al-Albani dalam silsilah hadits,)

Seorang suami yang memberikan makanan kepada ke­luarga dan membelanjakan hartanya untuk mereka akan mendapatkan pahala besar di sisi Allah swt., dalam sebuah hadits disebutkan,

"Sesungguhnya seorang muslin apabila membelanjakan harta, untuk keluarganya, kemudian dia mengharapkan ridha Allah swt. , maka dia akan memperoleh pahala seperti pahala sedekah. " " HR Muslim

Hendaklah seorang suami mengetahui bahwa istri akan lemah bila tidak memiliki harta atau makanan pokok. Oleh karena itu, keharusan bagi suami sesegera mungkin meme­nuhi segala kebutuhannya, sehingga dia dapat terhindar dari menyimpang. Karena kebutuhan wanita kepada harta dapat mendorongnya untuk melakukan penyimpangan dan kejahatan. Oleh karena itu, menafkahkan harta kepada istri adalah sebuah kewajiban kepada setiap suami dalam selu­ruh fase kehidupannya. Hal itu merupakan kewajiban ayah­nya jika dia belum menikah. Menjadi kewajiban suami jika dia sudah menikah dan kewajiban saudara laki-laki jika dia belum menikah untuk menafkahkan saudara perempuannya -- seandainya ayahnya sudah meninggal dunia atau sudah tidak mampu lagi menafkahkannya.

Begitulah yang sebenarnya, Islam tidak mengharuskan seorang wanita membiayai dirinya sendiri, karena seorang istri mudah sekali mendatangkan fitnah. Ketika undang- undang barat meniadakan kewajiban menafkahi anak yang sudah berusia delapan belas tahun ke atas, maka banyak gadis-gadis yang menyeleweng menjadi wanita penghibur sehingga terjadilah dekadensi moral di tengah kehidupa masyarakat. Sungguh Islam telah membentengi wanita, dan memeliharanya dari kehancuran moral sejak Islam mewajibkan kepada keluarga dan kerabatnya untuk memberikan nafkah kepada saudara perempuannya.

Atas dasar ini semua, termasuk dosa besar jika seorang suami mengabaikan untuk memberikan nafkah kepada istrinya, karena dia telah melalaikan kewajiban yang telah diamanatkan agama terhadap istrinya.

MEMUKUL dan MENGHINA ISTRI

Rasulullah saw. Pernah ditanya, apa kewajiban seorang suami terhadap istrinya ? beliau menjawab,

"(Kewajibannya adalah) Memberi makan kepada istrinya apabila dia makan, mengenakan pakaian kepadanya jika dia memakai baju, tidak menghinanya, tidak  memukul kecuali pukulan yang tidak membahayakan, dan tidak juga meninggalkannya kecuali di dalam rumah.” ( HR Abu Dawud, an-Nasa'i, dan Ibnu Maajah, dengan sanad yang baik.)

Dalam riwayat Ibnu Maajah Rasulullah saw. mengata­kan, "Tidak memukul dan menghinanya."

Maksud kata tidak menghina adalah sang suami tidak mengeluarkan sumpah serapah atau kata-kata yang me­nyakitkan hati sang istri. Islam membolehkan memukul seorang istri yang melakukan pembangkangan terhadap suaminya, sebagai salah satu bentuk pendidikan untuk me­ngembalikan dan menyadarkan sang istri kepada jalan yang benar, dengan harapan menaati sang suaminya kembali. Pukulan tersebut hendaknya tidak menciderai dan meninggalkan bekas, melainkan hanya dijadikan sebagai salah satu jalan untuk memperbaiki akhlaknya, hal itu pun terpaksa dilakukan oleh seorang suami setelah seorang suami mem­berikan pandangan dan nasihat kepada istrinya, serta me­ninggalkannya di tempat tidur. Rasulullah sangat heran kepada seorang suami yang memukuli istrinya dengan pu­kulan yang menciderai, kemudian pada hari berikutnya dia menggaulinya tanpa ada perasaan malu dan menyesal sedikit pun. Rasulullah SAW. Bersabda :

"Alangkah tidak pantasnya, jika seseorang di antara kalian memukuli istrinya seperti memukuli seorang budak, kemudian pada hari berikutnya dia menggauli istrinya itu. " (HR Bukhori dan Muslim)

Demi Allah ! bagaimana hal ini bisa terjadi , wahai para suami ? Sesungguhnya hal ini adalah pertentangan besar yang tidak pernah terjadi pada orang yang memiliki akal sehat, sedangkan Nabi SAW. Dalam hidupnya belum pernah sekalipun memukul istri-istrinya.

Jika seorang istri durhaka kepada suami dan berani membawa orang lain yang dibenci suami ke dalam rumah­nya ketika, sang suami berada di luar, maka suami boleh memberi sanksi mendidik berupa pukulan yang tidak membahayakan. Pukulan ini bukanlah satu-satunya sarana, melainkan bagian dalam rangkaian metode-metode pendi­dikan yang bertujuan untuk memperbaiki dan meluruskan akhlak sang istri setelah menggunakan cara-cara lain berupa memberikan pandangan, nasihat, pisah tempat tidur, dan lain sebagainya. Tentunya, seorang suami lebih mengetahui bagaimana dia memperbaiki istrinya. Pukulan yang me­nimbulkan istri benci, dan menambahkan kedurhakaannya, bukanlah sesuatu yang kita harapkan, bahkan hal itu ber­tentangan dengan kemaslahatan rumah tangga. Memukul dengan tujuan menyiksa dan lain sebagainya serta tidak bertujuan memperbaiki bukanlah pendidikan Islam. Karena pukulan yang menyakiti, menciderai atau membuat cacat tidak pernah ada dalam hadits Rasulullah saw.. Walaupun kita mengetahui bahwa al-kay 'besi panas' dalam proses pendidikan adalah obat terakhir, maka pukulan bukanlah sarana pamungkas, akan tetapi sarana terakhir yang digu­nakan jika dilihat ada manfaatnya. Rasululullah saw. ber­sabda :

“Seorang suami yang baik dari kalian itu tidak memukul (istrinya)”

Sumber: http://www.pa-magelang.go.id/penyejuk-hati/454-kesalahan-terbesar-suami-terhadap-istri.html

Jumat, 21 Desember 2012

Zikir dan Do'a Selepas Solat

0 komentar

Zikir dan Do'a Selepas Solat oleh Hazamin Full Version - (Ehsan Astro Oasis)
 Sebaiknya setiap berdoa jangan meninggalkan kesempatan buat mendoakan ibu dan bapa kita sebagai orang tua yang patut dihormati...

Sabtu, 24 November 2012

Do'a Ananda Buat Mamak Dan Bapak Tercinta...

0 komentar
Ya Allah, rendahkanlah suaraku bagi mereka,
Perindahlah ucapanku di depan mereka.
Lunakkanlah watakku terhadap mereka dan
Lembutkanlah hatiku untuk mereka. 

Ya Allah, berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya
atas didikan mereka padaku dan Pahala yang besar
atas kesayangan yang Mereka limpahkan padaku,
Peliharalah mereka Sebagaimana mereka memeliharaku. 

Ya Allah, apa saja gangguan yang telah mereka rasakan,
atau kesusahan yang mereka derita karena aku,
atau hilangnya sesuatu hak mereka karena perbuatanku,
jadikanlah itu semua penyebab rontoknya dosa-dosa mereka,
meningginya kedudukan mereka dan bertambahnya pahala kebaikan mereka
dengan perkenan-Mu, ya Allah
sebab hanya Engkaulah yang berhak membalas kejahatan dengan kebaikan berlipat ganda. 

Ya Allah, bila magfirah-Mu telah mencapai mereka sebelumku,
izinkanlah mereka memberi syafa'at untukku.
Tetapi jika magfirah-Mu lebih dahulu mencapai diriku,
maka izinkahlah aku memberi syafa'at untuk mereka,
sehingga kami semua berkumpul bersama dengan santunan-Mu
di tempat kediaman yang dinaungi kemulian-Mu, ampunan-Mu serta rahmat-Mu.
Sesungguhnya Engkaulah yang memiliki Karunia Maha Agung,
serta anugerah yang tak berakhir
dan Engkaulah yang Maha Pengasih Di antara semua pengasih. 
Amin..amin..amin, Ya Allah Ya Robbal 'alamin...

.

 
Mewujudkan Keluarga yang SEHAT, SEJAHTERA & HARMONIS
Dari dua juta pasangan menikah tahun 2010 saja, 285.184 pasangan bercerai. Dan tingginya angka perceraian di Indonesia, merupakan tertinggi se-Asia Pasifik. Data tersebut, juga memperlihatkan bahwa 70 persen perceraian itu karena gugat cerai dari pihak istri dengan alasan tertinggi adalah karena KETIDAKHARMONISAN.
Lebih Lengkapnya disini...
CARA MUDAH BISNIS ONLINE TANPA STOK
"Dapat uang dari BLOG itu mudah, Asal Anda tahu caranya. Saya Akan tunjukkan kepada Anda sekarang juga...CARA MUDAH BISNIS ONLINE TANPA STOK"
Lebih Lengkapnya disini...
Peluang Usaha Modal Kecil
"Bisnis DropShip Dengan Bonus Double plus Bisa Diwariskan Ini benar-benar bisnis impian Anda. Modal kecil cuma 30rb Anda sudah bisa langsung JUALAN mulai detik ini juga. Bisnis dropship plus-plus karena Anda akan mendapatkan bonus berganda, punya potensi PASIVE INCOME* dan bahkan bisa diwariskan. Apa yang Anda harapkan dari sebuah bisnis dropship ada disini. Tidak percaya? ..."
Lebih Lengkapnya disini...

Cange Your Water, Change Your Life

Mewujudkan Keluarga yang SEHAT, SEJAHTERA & HARMONIS
Dari dua juta pasangan menikah tahun 2010 saja, 285.184 pasangan bercerai. Dan tingginya angka perceraian di Indonesia, merupakan tertinggi se-Asia Pasifik. Data tersebut, juga memperlihatkan bahwa 70 persen perceraian itu karena gugat cerai dari pihak istri dengan alasan tertinggi adalah karena KETIDAKHARMONISAN.
Lebih Lengkapnya disini...
CARA MUDAH BISNIS ONLINE TANPA STOK
"Dapat uang dari BLOG itu mudah, Asal Anda tahu caranya. Saya Akan tunjukkan kepada Anda sekarang juga...CARA MUDAH BISNIS ONLINE TANPA STOK"
Lebih Lengkapnya disini...
Peluang Usaha Modal Kecil
"Bisnis DropShip Dengan Bonus Double plus Bisa Diwariskan Ini benar-benar bisnis impian Anda. Modal kecil cuma 30rb Anda sudah bisa langsung JUALAN mulai detik ini juga. Bisnis dropship plus-plus karena Anda akan mendapatkan bonus berganda, punya potensi PASIVE INCOME* dan bahkan bisa diwariskan. Apa yang Anda harapkan dari sebuah bisnis dropship ada disini. Tidak percaya? ..."
Lebih Lengkapnya disini...